Beranda > Fiksi > Kenapa Dunia Ini Terlalu Kejam

Kenapa Dunia Ini Terlalu Kejam


Aku duduk dipaling ujung didekat pintu dengan berhadapan wanita-wanita. Hanya aku dan supir angkutan umum yang lelaki.

Setiap pagi mulai hari senin yang lalu sampai seminggu kedepan aku harus bolak-balik sabar dan menghabiskan setengah jam dari waktuku untuk berada dimobil yang supirnya ugal-ugalan. Aku sedang ada tugas diluar kantor. Mengamati sekeliling dan sepanjang jalan ketika berada diperjalanan adalah hal biasa yang selalu aku lakukan. Mulai dari gadis-gadis muda yang berada satu kendaraan, ibu-ibu tua, preman, pertokoan, hotel, dan mobil-mobil yang memadati jalan.

Yang menjadi sorotan utamaku adalah ketika aku melihat dua orang anak kecil mengedarkan koran-koran ditengah jalan. Mungkin usia mereka sekitar delapan atau sembilan tahun. Mereka tampak kompak menawarkan kumpulan kertas penuh informasi itu kepada para pengendara jalan.

“Dek, sini, Dek!” Kataku seraya melambaikan tangan kearah anak kecil penjual koran.

“Iya Bang, mau beli koran?”

“Satu berapa, Dek?”

“Dua ribu Bang.”

Ku ambil selembar uang dua ribuan dari saku bajuku.

“Terimakasih, Bang.” Kata anak kecil itu ketika menerima uang dariku dan ia langsung menyerahkan satu koran kepadaku.

Anak kecil itu langsung pergi menawarkan dagangannya kepada pengendara jalan lain. Padahal, banyak sekali yang ingin aku tanyakan kepada anak kecil itu.

Kenapa kamu menjadi penjual koran? Kan ada orang tuamu

Kenapa kamu tidak sekolah? Harusnya sekarang kamu sedang belajar didalam kelas

Apa kamu bahagia menjadi penjual koran? Harusnya sekarang kamu bermain riang bersama teman-temanmu

Apa kamu punya cita-cita? Harusnya kamu tengah berjalan mewujudkan impianmu

Apa kamu ikhlas menjalankan profesi ini? Harusnya kamu terpaksa menjual koran

Apa kamu mau sekolah kalau ada orang kaya yang baik membiayai sekolah dan segala kebutuhannmu? Karena kamu juga layak untuk merubah hidupmu

Tapi ku urungkan semua pertanyaan-pertanyaanku itu. Anak kecil itu langsung berlalu dan menjajakan dagangannya kembali.

“Syukurlah dagangannya laku,” Aku tersenyum dalam hati melihat dua lembar uang dua ribuan digenggamnya, menjadi tiga lembar setelah aku beli satu korannya tadi.

Dikantor hanya kerja sampai jam setengah duabelas karena hari ini adalah hari jumat. Setelah makan siang aku berangkat ke masjid untuk beribadah sholat jumat bersama teman-teman sekantor.

“Bang, sepatunya semir Bang?” Tawar seorang anak kecil ketika aku baru saja sampai dihalaman masjid.

“Maaf, Dek” Jawabku sambil tersenyum kepada anak kecil itu.

Setidaknya nampak tiga anak kecil yang menawarkan jasa semir yang ada disana. Mereka menawarkan jasa semir kepada setiap orang yang memakai sepatu hitam. Baju lusut dan muka memelas, membuatku sedih juga. Apalagi kulihat tak seorangpun yang menerima tawaran anak-anak kecil itu.

Duduk sila didalam masjid sambil menunggu adzan dikumandangkan membuatku merenung.

Kenapa hidup ini tidak adil

Mereka anak kecil harus bekerja keras untuk bisa makan sesuap nasi dan membeli jajan

Dimana orang tua mereka

Mereka patasnya mendapat kasih sayang dari orang tua mereka

Mereka harusnya tidak panas-panasan ditengah jalan

Kadang mereka dihina

Mereka minta dengan baik-baik, tapi balasannya malah makian dan hinaan

Minta sisa makanan yang masih bisa dimakan, malah kena maki

Ternyata, makanan itu dibuang ditong sampah

Hidup itu,

Medan, 22 Februari 2013

Andi Aryatno

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: