Beranda > Tahukah Kamu? > 5 Kebiasaan (Buruk) Orang Indonesia Yang Tidak Memandang Tingkat Pendidikan Dan Strata Sosial

5 Kebiasaan (Buruk) Orang Indonesia Yang Tidak Memandang Tingkat Pendidikan Dan Strata Sosial


1. Merokok di ruangan tertutup dan ber-AC

Sepanjang hidup gua, gua cuma menemukan satu orang yang benar-benar menghormati orang yang tidak merokok, dia adalah salah satu partner TA gua yang sekarang bekerja di perusahaan minyak. Jadi kalau kita lagi ngerjain TA bareng, dia pasti minta izin untuk keluar/jauh-jauh dari gua untuk ngerokok (walaupun gua ga pernah masalah ya dia ngerokok deket gua, asal di ruangan terbuka). Selain dia, mulai dari bokap, temen yang lain, partner bahkan sampe bos-bos level eksekutif kayaknya ga begitu mempedulikan masalah asap rokok ini.
Walaupun peraturan pemda, undang-undang, udah ditempel gede-gede di lantai gedung perkantoran di Jakarta + tanda larangan merokok yang segede gaban, orang-orang masih aja merokok di dalam gedung. Mulai dari merokok di wc, pantry, ruangan kerja sampai ruang meeting. Come on guys… orang-orang yang ada disana bukan semuanya perokok kalee, dan itu ruang tertutup dan ber-AC. Satu orang yang ngerokok aja asepnya udah kayak apa, apalagi beberapa orang.

Well, mungkin para perokok tidak mengerti hal ini karena mereka merasa asap rokok fine2 aja dan orang lain lebay. OK, perokok, sebagai ilustrasi, kalian para perokok pernah berdiri di sebelah pembakaran sampah? apa reaksi Anda? Tutup hidung, menjauh dan mengumpat2 kan? Nah, seperti itulah perasaan kami ketika berada di sebelah Anda yang merokok! For God’s sake, kalian memang tidak ada masalah dengan asap rokok, tapi kami tidak! Menurut kami tidak ada bedanya antara kalian atau sampah yang mengeluarkan asap. Sama2 bau dan sakit di hidung. Got it???

Memang hak kalian untuk merokok, tapi merupakan hak kami juga untuk menghirup udara bersih. Janganlah menggunakan hak anda namun mengambil hak orang lain.

Dulu gua suka pengen menegur orang yang merokok di angkutan umum, tapi sekarang gua jadi rada males. Orang-orang berpendidikan tinggi dengan status sosial yang tinggi aja masih ga peduli, apalagi hanya sekedar orang biasa di angkutan umum dan jalanan ibukota.

2. Etika naik lift

Ini salah satu hal yang bikin gua gregetan. Berkantor di gedung pencakar langit jalan protokol ibukota, bekerja di perusahaan multinasional, jabatan tinggi, mempunyai pemasukan yang besar dan punya titel dari perguruan tinggi terkemuka, gua yakin mereka tetep ga lebih beraturan daripada tukang palak Pasar Senen kalo masalah naik lift.

Gua rasa semua orang harusnya udah tau lah ya etika tidak tertulis kalau mau naik lift. Dahulukan orang yang akan keluar, setelah itu baru anda masuk. Tapi dalam kenyataannya, ga semua orang bisa melakukan hal itu. Kalau di lingkungan perkantoran, mau yang levelnya top management pun, masih suka seradak seruduk tuh kalau naik lift, langsung aja nyelonong masuk tanpa liat ada yang mau keluar atau engga. Kalau yang di mall, mau orang tersebut nenteng kantong belanjaan merk ternama (yang harga dompetnya seharga motor), tetep aja langsung nyelonong begitu pintu lift kebuka.

WTF man? Ga ada salahnya gitu nunggu barang 5 detik. Lift nya juga ga akan jalan kalo yg di dalem ga keluar. Lalu lintas keluar masuknya ga lancar (desak2an) justru malah bikin lebih lama jalannya kali. Sabar lah. Ga akan lebih cepet sampe juga lu main serudak seruduk.

Ga sabaran atau ga punya etika?

3. Mengantri

Sebenernya hampir mirip kayak etika naik lift diatas, namun disini lebih general. Mulai dari antri belanja di kasir, antri beli tiket, antri makanan, dst. Orang yang udah ke luar negeri juga ga bisa ngantri. Waktu mereka di luar, bisa banget mereka antri, kek orang2 Indon yang ke Singapore. Tertib2 mereka. Tapi begitu pulang ke Indonesia, balik lagi jadi main serobot. Apa emang tanah Indonesia menarik orang untuk menjadi tidak tertib???

Salah satu hal yang paling bikin gua geli adalah ketika antri ngambil makanan di pondok-pondok makanan pada pesta pernikahan kerabat. Udah antri panjang dan lama, pasti aja ada yang nyerobot ke samping pondok, udah gitu ngambilnya borongan pula buat beberapa anggota keluarganya. Ampun deh, padahal pesta di gedung mewah gitu, pakaian pesta yang gemerlap, pastilah tamu nya pun orang-orang yang berada. Tapi tetep aja bawaannya nyerobot kedepan.

4. Buang sampah sembarangan

Pernah liat kan kalau lagi jalan suka ada orang yang buang sampah dari jendela mobil? Gua suka bingung, padahal pake mobil mewah, udah gitu di jendela belakang tertempel stiker yang menunjukkan bahwa si empunya mobil adalah alumni perguruan tinggi bergengsi, tapi kok beli tempat sampah kecil buat di mobil aja ga bisa. Kalaupun ga ada tempat sampah, mbok ya ditaroh dulu aja sampahnya di lantai, nanti kalau udah turun bisa dibuang di tempat sampah terdekat. Harus ya buang sampah dari jendela mobil?

Jadi kalau kalian suka menghina kaum marginal yang tinggal di bantaran kali yang banyak membuang tumpukan sampah disana, jangan langsung menghina dulu, coba kita berkaca pada diri kita sendiri. Apakah kita masih suka buang sampah sembarangan, suka lempar sampah dari jendela mobil, suka buang puntung rokok di jalanan, dst? Kalau iya, kita ga lebih baik dari mereka. Bedanya kita lebih beruntung karena punya uang lebih dan bisa hidup di lingkungan yang lebih baik.

*mungkin karena ada orang yang melakukan “tindakan kebersihan” untuk kita :p

5. Etika berkendara

Suka kesel kalau lagi macet panjang karena lampu merah dan tiba-tiba ada bis/angkot dari belakang nyerobot ambil jalur yang berlawanan trus maksa-maksa minta jalan karena ada kendaraan dari arah depannya? Yah, emang ngeselin banget kalau lagi kayak gitu, saya pribadi pun suka ga ngasih jalan untuk mereka. Bahkan beberapa ada yang memaki, “dasar supir angkot, ga berpendidikan !! “.

Tapi ternyata ga hanya angkot/bis loh yang melakukan hal itu, banyak juga mobil pribadi yang melakukan hal serupa. Mulai dari melanggar lampur merah, masuk ke Jalur Bus Transjakarta walaupun jalanan ga macet dan pada saat weekend, nyetir ugal-ugalan, dan lainnya.

Tulisan ini bukan untuk menyindir atau mendiskreditkan pihak tertentu, no offense, bro (padahal daritadi ofensif ya). Disini gua cuma mau menyampaikan dua point sih :

1. Ternyata ada beberapa hal/kebiasaan yang melekat pada karakter seseorang, tidak peduli seberapa kaya, seberapa “intelek” dan hebat orang tersebut. Padahal hal-hal yang gua sebutin diatas, semua orang pun tau dan ga perlu sekolah tinggi juga sih buat melakukan hal tersebut, tapi ternyata ga semudah itu mengimplementasikannya. Apakah memang itulah karaker bangsa Indonesia? Ataukah kondisi dinamika sosial kita yang kadang memaksa kita untuk berperilaku demikian?

2. Untuk temen-temen yang mungkin pernah emosi dan kesel sama kaum “marginal” untuk hal-hal yang dilakukan mereka diatas, mohon dimaklumi dan dimaafkan saja.

Kadang disaat gua kesel sama supir bis/angkot yang nyalip gua, gua ngelus dada bentar lalu berpikir “yah, mungkin mereka emang lagi ngejer setoran, toh gua juga lagi ga buru-buru”. Gua pernah ngobrol sama supir angkot, ternyata setoran mereka itu, guess what, sampe 110 ribu perhari, berarti sehari mereka harus nyari uang 200 ribu lebih untuk nutupin bensin dan sisanya dibawa pulang. Paling banter tuh mereka dapet 40 ribu sehari, itu juga udah bagus.

Apa bro? 40 ribu rupiah sehari? Serius???? Yah, buat beberapa dari kita, mungkin uang 40 ribu apa siiihh artinya, cuma bisa buat minum di kedai kopi franchise ternama doang. Tapi buat para supir angkot itu adalah penghidupan keluarga mereka. Gua ga membenarkan mereka atas tindakan tersebut, namun gua akan lebih bisa memaklumi mengapa mereka melakukan tindakan tersebut dibanding kaum kaya dan intelek yang melakukan hal serupa.

Good character is more to be praised than outstanding talent. Good character, by contrast, is not given to us. We have to build it piece by piece by thought, choice, courage and determination

-John Luther-
Sumber

Artikel Terkait

100 Arti Mimpi (Bunga Tidur)

Sejarah Asal Muasal Blackberry

Tanda-tanda Si Kencing Manis

Apakah Makan Coklat Itu Baik Untuk Kesehatan?

Cara Menjadi Detektive di Dunia Maya

Persimpangan Ruwet di Dunia

10 Makanan Untuk Memperbaiki Mood

10 Cara Mudah Meningkatkan Mood

Kisah Tuyul Dan Babi Ngepet Curi Uang Warga

Tipe-Tipe Blogger

10 Nasehat Bijak Einstein

  1. Juni 16, 2013 pukul 1:04 pm

    Hi, after reading this amazing post i am also glad to share my experience here with colleagues.

  1. Februari 20, 2012 pukul 9:24 pm
  2. Februari 21, 2012 pukul 7:10 pm
  3. Februari 21, 2012 pukul 7:28 pm
  4. Februari 21, 2012 pukul 7:48 pm
  5. Februari 22, 2012 pukul 1:18 pm
  6. Februari 22, 2012 pukul 6:20 pm
  7. Februari 22, 2012 pukul 7:57 pm
  8. Februari 23, 2012 pukul 5:40 pm
  9. Februari 23, 2012 pukul 5:48 pm
  10. Februari 25, 2012 pukul 7:21 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: