Beranda > Uncategorized > Karena Panti Asuhan

Karena Panti Asuhan


karena panti Asuhan

“Sudah siap Nda…? jam sepuluh kia berangkat!” teriak ayah. Ayah baru selesai mengepak baju-baju bekas ke dalam kardus besar. Seminggu ini ayah rajin mengumpulkan sumbangan baju-baju pantas pakai. Baju pantas pakai ini akan disumbangkan ke Panti Asuhan.
Swarinda cemberut. Ia malas ikut ayahnya. Minggu padi ini ia ingin bermalas-malasan di rumah.
“Apa salahnya jika sekali ini saja kamu ikut ayah ke Panti Asuhan, Nda?” Bujuk ayah.
“Yah, kita itu orang miskin dankita tidak punya kewajiban menolong mereka, lagi pula Swarinda sudah tidak punya ibu lagi.” Kata Swarinda.
“Tapi tidak ada salahnya kita beramal.” Cetus ayah.
“Beramal? Memang selama ini ada orang kaya yang beramal kepada kita Yah?” jawab Swarinda kesal.
“Kamu jangan egois dan jangan mencontoh orang-orang kaya. Mereka sudah lupa bahwa harta yang mereka miliki adalah titipan Allah. Ayolah Nda, kita ke panti asuhan, sekecil apapun kita berbuat baik, Allah pasti akan membalas kebaikan kita.” Terang ayah.
Ayah terus membujuk. Akhirnya Swarinda ikut. Di dalam ecak, ia diam saja sebagai tanda protesnya terhadap ayahnya. Ayah hanya tersenyum. Ayah tahu kekesalan putri tunggalnya.
Becak berhenti di halaman panti asuhan. Kardus berisi baju diturunkan. Kemudian ayah menuju ke ruang tengah dan berbincang-bincang dengan pengurus panti asuhan. Swarinda malas ikut kedalam, ia menuju ke ruang samping. Ada sebuah taman bermain yang cukup luas, ia duduk dan melihat anak-anak yang sedang bermain. Wajah-wajah mereka kelihatan cerah dan gembira. Jauh dari bayangan Swarinda selama ini. Dalam benaknya, anak-anak panti asuhan selalu murung dan memelas. Ternyata ia salah duga.
“Kak, main di sini, yuk!” seorang anak memanggil Swarinda. Anak itu melambai-lambaikan tangannnya.
Swarinda meggeleng sambil membalas lambaian tangan itu. Ia masih enggan berbaur dengan mereka. Di salah satu sudut halaman, sekelompok anak berkerumun, semua membawa pensil dan selembar kertas. Rupanya mereka sedang mengerumuni seseorang. Swarinda tertarik dan mendekat.
Seorang laki-laki sebaya sedang menggambar pada selembar kertas. Teman-temannya memperhatikan. Mereka mencontoh gambaran anak laki-laki itu.
“Hai kamu!” anak laki-laki itu memanggil Swarinda. “ Mau ikut menggambar? Nih, masih ada kertas!” anak itu menyodorkan selembar kertas. Sarinda menggeleng.
“Namaku Wildan,” anak itu menyalami Swarinda. Swarinda pun menyebut namanya, “Swarinda.”
“Gambar kamu bagus.” Puji Swarinda
“Terima kasih.” Jawab Wildan.
“Cuma itu yang bisa aku lakukan untuk mereka. Kalau aku punya uang, aku ingin menyumbang buat mereka. Aku hanya bisa menggambar, itulah yang kusumbangkan.”
“Jadi, kamu bukan penghuni panti asuhan ini?” Tanya Swarinda
“Aku tinggal tidak jauh dari panti ini. Setiap pulang sekolah aku selalu bermain ke sini mengajari mereka menggambar.” Ujar Wildan.
Swarinda hanya bisa mengatakan “Oo….”
“Nda….! Ayah sudah selesai! Pulang, yuk!” ayah memanggil Swarinda.
“Ya, Yah!” Swarinda melambaikan tangan, membalas panggilan ayahnya. Kemudian ia menatap Wildan, “Aku harus pulang dulu, Wil. Besok pulang sekolah aku akan kesini lagi.” Swarinda berlari menghampiri ayahnya.
“Yah, besok Swarinda akan ke panti lagi. Swarinda mau ngajarin mereka menggambar,” kata Swarinda dalam perjalanan pulang.
“Swarinda kan masih kecil, jadi tidak bisa menyumbang uang. Kata teman Swarinda. Menyumbang tidak harus dengan uang. Jadi Swarinda akan menyumbang ketrampilan Swarinda, Swarinda kan bisa menggambar. Boleh kan, Yah!” pinta Swarinda pada ayahnya.
Ayah terheran-heran melihat perubahan sikap Swarinda yang begitu cepat.
“Yah, maafin omongan Swarinda tadi pagi ya, Yah!” kata Swarinda meyesal ketika hamper sampai rumah.
Dengan senyumnya ayah berkata, “Nggak apa-apa kok, Nda! Ayah tahu kok perasaan kamu gimana!
“Tapi boleh kan, Yah! Swarinda ingin ke panti lagi!” Lanjut Swarinda ketika sampai di rumah.
“Ya , ya.,.,. boleh aja sih! Ayah senang kamu berpikir lebih dewasa, memang nama teman kamu siapa?” lanjut ayah.
“Emm… Wildan, dia anaknya baik banget lho Yah! Dari dia Swarinda sekarang mengerti bahwa tidak dengan uang saja dapat membantu orang lain, tapi dengan ketrampilan dan kemampuan yang dimiliki juga bisa membantu orang lain.” Jelas Swarinda.
“Ya sudah, sekarang kamu siapkan untuk sekolah besok dan cepatlah tidur agar tidak bangun kesiangan.” Kata ayah sambil menuju kamar.
Malam pun semakin larut hingga tidak terasa pagi sudah tiba. Kicauan burung menambah maraknya pagi. Namun, Swarinda belum juga bangun.
“Nda…! Bangun , sudah siang, nanti kamu terlambat ke sekolah,” kata ayah sambil membangunkan Swarinda.
“Ehm… swarinda males bangun. Swarinda habis mimpi indah. Swarinda mau nerusin mimpi Swarinda,” kata Swarinda.
“Memangnya kamu mimpi apa Nda…?” Tanya ayah heran.
“Swarinda lagi jalan-jalan sama Wildan, ia lagi mengajak Swarinda ke taman. Terus sampai di taman hujan turun. Kemudian kami berteduh dibawah pohon. Lalu Swarinda basah kuyup. Dan Wildan langsung melepas jaket dan dipakaikan ke Swarinda. Ketika kami di bawah pohon tidak seorang pun manusia di taman itu kecuali kami yang sedang berteduh dibawah pohon. Walaupun Swarinda memakai jaket, tapi Swarinda tetap kedinginan. Terus, Wildan memegang tanganku terus.” Swarinda menerangkan dengan panjang lebar apa yang ada di mimpinya.
“Benar Nda..? syukurlah kini kau sudah memasuki masa puber,kini kamu sudah bertambah dewasa. Ayah banga padamu, nak.” Kata ayah yang sedang gembira.
“Tapi Nda…?” kata ayah.
“Tapi apa ayah…?” jawab Swarinda heran.
“Apa….kamu tidak berangkat sekolah?” Tanya ayah pelan-pelan
Swarinda langsung menengok kea rah jam wakernya sambil berteriak ah…. Setengah tujuh Swarinda ada ulangan ulangan jam pertama. Swarinda langsung bergegas bangkit dan berlari ke kamar mandi. Ia mandi tapi tidak memakai sabun. Kemudian berganti pakaian, lalu menyambar sarapan di meja yang hanya terdiri dari sepiring nasi, semangkuk sayur bayam, dan empat potong tahu asin. Ia makan hamper tidak mengunyah makanan sambil maka ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 06.50. kemudian ia langsung ke kamar mandi lagi dan menyikat gigi tanpa pasta gigi. Ia mau berangkat tapi ayahnya sedang merapikan kayu bakar di belakang rumah.
Jam sudah menunjukkan tepat pukul tujuh. “Yah, Swarinda berangkat dulu ya, Yah!” teriak Swarinda sambil menyeret tasnya di meja.
“Duh,… masih ada angkot nggak ya? Sudah jam segini pasti angkotnya sepi!” Swarinda bertanya-tanya dalam kecemasan.
Tiba-tiba sebuah mini bus berhenti di depan Swarinda dan di dalam mini bus cuma ada Swarinda serta supir busnya.
“Sssiittt…” Suara rem berbunyi, mini bus berhenti di depan SMP 105 Jakarta. Swarinda berlari dengan tergopoh-gopoh masuk nyelonong ke dalam kelas. Semua anak yang sedang megerjakan ulangan berhenti mengerjakan dan memandang Swarinda.
“Jam segini kamu berangkat, cepat berdiri di depan kelas sambil mengangkat satu kaki dan menjewer kedua telingamu” teriak Bu Sinta, Guru yang saat itu sedang mengawasi ulangan di kelas itu.
Beberapa jam kemudian, yaitu pukul 12.00 siang. Semua siswa SMP 105 Jakarta bubar. Lalu Swarinda langsung dating ke panti asuhan. Di sana ia melihat Wildan sedang duduk termenung du depan taman.
“Hai Wil….! Kok ngelamun, lagi ngelamunin siapa hayo….?!” Ledek Swarinda.
“Ada deh….” Jawab Wildan
“Eh Wil… tau nggak semalam aku mimpiin kamu, gara-gara aku mimpiin kamu aku jadi bangun kesiangan, terus terlambat ke sekolah. Udah terlambat, nggak ikut ulangan lagi.” Swarinda berceloteh.
“Benarkah..??? semalam aku juga mimpiin kamu.” Wildan juga bercerita.
“Jadi, semalam kita saling bermimpi di antara kita. Nda… ada sesuatu yang mau aku omongin sama kamu,” Wildan gugup
“”Apa…????” Tanya Swarinda
“Aku sayang ma kamu.” Jawab Wildan dengan malu-malu.
“Sebenarnya aku sayang sama kamu, sejak pertama kali aku ketemu kamu, tapi aku takut mengungkapkannya.” Wildan mengungkapkan perasaannya,
“Sungguh…????” Tanya Swarinda dengan hati berbunga-bunga
“Iya, aku sungguh-sungguh.” Jawab Wildan. Kemudian mereka jadian dan bahagia karena mereka sudah sama-sama mengerti arti kasih sayang. (Dengan perubahan secukupnya)
(Retno M,)

Kategori:Uncategorized Tag:, ,
  1. Desember 14, 2011 pukul 4:40 pm

    cerpennya bagus…
    salam kenal dari http://showroom79.wordpress.com

    • Andi Aryatno
      Desember 14, 2011 pukul 4:50 pm

      makasih atas kunjungannya. . ,

      Salam. . ,🙂

  2. Agustus 3, 2013 pukul 4:04 am

    Is truly water reservoir easily accessible and not cramped for pouring water
    into? Is definitely the cooking pot alone very easy to slip into and additionally away the device?
    Does the coffee basket eliminate easily? tend to be the parts which
    need exclusive occasional washing effortless to go?
    . For much more than 41 many years, we have
    been committed to bringing exceptional coffee and espresso beverages in
    order to our very own customers, states Howard Schultz, Starbucks chairman, chief executive
    and also CEO, in the press release.

  1. Januari 1, 2012 pukul 4:48 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: