Beranda > Uncategorized > Hidayah Cinta

Hidayah Cinta


Senja semakin menghampiri, aku berjalan seorang diri, tiada yang menemani. . .

Syita tersenyum sendiri, ia update status di facebooknya dengan kata-kata tersebut. Dia memang sedang dalam perjalanan menuju Bioskop karena ia ingin menonton film Tanda Tanya sembari menunggu waktu Maghrib tiba. Dia memang seorang diri saat itu, tidak ada yang menemaninya. Dia berkhayal kapankah dia bisa punya seseorang yang akan menemaninya setiap saat, kemanapun dia pergi. Ah, pikiran itu segera ditepisnya, ia segera membeli tiket. Filmnya akan dimulai jam 18. 15 WIB, sekarang sudah jam 18. 00 WIB, masih ada waktu untuk shalat maghrib.

Syita segera mengayunkan kakinya menuju masjid Nurul Iman yang berada disamping bioskop. Adzan telah berkumandang, Syita segera menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, suara adzan terdengar jelas dari tempat Syita berada saat itu, Syita agak tercenung sesaat ketika mendengar suara adzan tersebut.

“ Suara adzannya merdu sekali. Selama aku menetap dikota ini baru kali ini aku mendengar suara adzan seindah ini, membuat hati tergugah ingin segera shalat. ” gumam Syita dalam hati.

Tapi ia segera menyudahi lamunanya ketika suara adzan tersebut berhenti, ia mengambil air wudhu dan setelah itu dia bergabung dengan para jama’ah wanita yang sudah berkumpul, kebetulan di shaf terdepan masih ada yang kosong, Syita segera mengisinya. Iqomat dikumandangkan, semua jama’ah berdiri untuk memulai shalat. Syita merenung, selama ini dia jarang sekali shalat berjama’ah, suatu kenikmatan yang besar dia bisa melaksanakan shalat jama’ah saat itu.

Terdengar suara sang imam shalat melantunkan Al Fatihah dengan tilawah yang begitu fasih, hati Syita bergetar. Subhanallah, suaranya bagus sekali. Ternyata di kota metropolitan ini ada juga yang bisa membaca Al Qur’an dengan tartil dan tilawah yang sangat fasih. Pasti dia orangnya sangat tampan, wajahnya putih bersih dan bercahaya karena selalu disirami dengan Air wudhu, alangkah senangnya kalau aku bisa jadi istrinya. Pikirnya.

Astaghfirullahaladzim, Syita teringat bahwa saat itu dia sedang shalat. Kenapa dia berpikiran kemana-mana? Syita segera menepis semua pikiran itu dan berusaha untuk khusyu dalam shalatnya. namun, hingga shalat berakhir dia terus berfikir siapakah sang imam yang bersuara merdu itu. Dia ingin sekali tahu wajahnya, tapi bagaimana bisa?dimasjid itu tempat wanita dan pria di pisah, bagaimana dia bisa tahu wajah sang imam diantara banyak ribuan jama’ah pria yang lain?

Usai shalat Syita segera membenahi mukenanya dan bergegas menuju bioskop, ia tidak mau terlambat menonton film yang telah lama ia tunggu-tunggu itu. Ia telah lupa dengan sang muadzin dan sang imam bersuara merdu yang ia kagumi itu.

###

Syita membenahi semua buku-bukunya dan bersiap untuk kuliah ketika sang ibu memanggilnya.

“ Ada apa Bu?” tanya Syita dengan penuh takzim

“ Nak, kemarin ada yang datang kesini untuk melamarmu. ” Ucap Ibunya pelan.

“ Bu, Syita masih pengen kuliah, belum ingin menikah. “

“ Syita, temuilah dulu orang itu. Setelah itu kau bisa memutuskan untuk menerimanya atau tidak. ” Kata ibunya bijak.

Syita menghela napas panjang, tak kuasa menolak permintaan ibunya. Akhirnya ia menyatakan untuk bersedia menemui orang tersebut.

“ Nanti sore dia akan datang kemari lagi untuk menemuimu, sepulang kuliah kau tak usah kemana-mana yah. Langsung pulang kerumah. Oh iya, dia menitipkan ini padamu. ” Ibunya menyerahkan sebuah amplop putih kepada Syita.

Syita segera menerimanya dan berpamitan untuk pergi kuliah. Dalam perjalanan menuju kampusnya, Syita membuka amplop yang diberikan ibunya. Isinya sebuah surat.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Ukhti Zahrotussyita yang dirahmati Allah.

Afwan, bila ana lancang menitipkan surat ini pada ibunda ukhti Syita. Ana berkunjung kerumah ukhti untuk berta’aruf, namun ternyata ukhti tidak ada. Karena itu ana menitipkan surat ini pada ibunda ukhti Syita. Sejak lama ana mengagumi ukhti Syita, tulisan-tulisan Ukhti Syita di media massa sangat menarik dan bagus sekali, membuat ana terkagum-kagum. Ukhti adalah sosok muslimah yang berani menyuarakan kebenaran islam, walau berbagai kecaman datang dan menyerang tapi ukhti tetap bertahan memegang apa yang sudah menjadi keyakinan ukhti. Ukhti telah berjihad dengan cara ukhti sendiri, ukhti berdakwah melalui goresan-goresan pena yang menyentuh hati. Mengajarkan cinta kepada Allah dan RasulNya dengan sebenar-benarnya cinta. Ana ingin mendampingi ukhti berdakwah, ana ingin menjadikan ukhti bidadari dalam hidup ana. semoga Allah meridhoi niat tulus ana. Insya Allah ana akan datang lagi kerumah ukhti untuk mendengar jawaban ukhti

Wassalamualaikum. Wr. Wb

Amrullah

Syita melipat kembali surat itu, dia merasa aneh. Selama ini dia memang sering mendapatkan surat dari orang-orang yang mengaku kagum dengan tulisan-tulisannya di media massa, tapi tak ada yang sampai berani mendatangi rumahnya untuk melamarnya. Namun tak bisa dipungkiri bahwa Syita merasa tersanjung dengan untaian kalimat indah yang tertulis di surat itu. Dia menjadi penasaran siapakah sebenarnya orang yang bernama Amrullah itu.

Sepanjang hari itu, Syita tak bisa berhenti memikirkan ikhwan yang bernama Amrullah itu, berkali-kali ia mengulangi membaca surat dari Amrullah dan hatinya kian bergolak ingin segera bertemu dengan si penulis surat. Rangkaian kata-kata yang disusun demikian manis, dan dari isi surat tersebut tampak ketulusan sang penulis untuk menyuntingya. Dari tulisan tangannya terlihat bahwa ia orang berpendidikan dan sangat mencintai agamanya, dia pasti bukan orang sembarangan.

Syita menjadi gelisah, sepertinya dia telah terpikat dengan kata-kata yang tertulis di selembar surat itu. Ia tak sabar menanti kedatangan Amrullah, sore harinya Syita berdandan secantik-cantiknya. Rasanya ia ingin segera bertemu muka dengan Amrullah dan menyatakan kesediaannya untuk menjadi bidadari dalam hidupnya. Banyak sudah yang datang melamarnya, namun tak ada yang bisa memikat hatinya. Namun Amrullah, hanya melalui sepucuk surat telah membuat hatinya gelisah, dan dalam sekejap merindukannya.

Syita menunggu dengan resah mengharapkan kedatangan Amrullah yang telah memikat hatinya melalui sepucuk surat. Tak lama kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman rumahnya, Syita mengintip dari jendela rumahnya. Hatinya melonjak gembira mengetahui bahwa sang arjuna yang dinantikannya telah tiba. Syita kembali bercermin merapihkan pakaiannya yang sudah rapih, dia memakai baju kurung selutut warna biru langit beraksen bordir warna hitam dengan jilbab warna senada yang membuatnya tampak sangat anggun dan jelita.

Syita duduk dengan gelisah, dia menunggu ibunya yang akan datang dan membawanya bertemu dengan Amrullah. Dari dalam kamarnya Syita bisa mendengar percakapan di ruang tamu, ia mendengar suara seorang pemuda yang berbicara dengan bahasa halus dan santun. Pasti itu suara Amrullah, hati Syita berdebar.

Tak lama kemudian ibunya datang, sang ibu tersenyum melihat Syita. Kemudian ibu mengajak Syita untuk ke ruang depan menemui Amrullah. Syita terus menunduk hingga ia tiba di ruang tamu, ia tak berani mengangkat mukanya. Sampai ia duduk satu ruangan dengan Amrullah, Syita terus menunduk.

“ Assalamualaikum ukhti Syita. . ” suara halus itu terdengar menyapanya

“ Wa. . . walaikumsalam akhi. . ” jawab Syita dengan terbata-bata, ia gugup sekali. Dan ia masih menunduk

“ Apakah ukhti sudah membaca surat dari ana?”

Syita mengangguk perlahan

“ Lalu apa jawaban ukhti?” tanya amru lagi

Syita terdiam, ia mengumpulkan kekuatan untuk bicara. Ia mengangkat muka ingin melihat wajah Amru, dan dia agak terkesiap. Ternyata Amrullah berkulit hitam, hidungnya besar, dan dagunya lebar, banyak bekas jerawat menonjol di wajahnya. Amat jauh dari perkiraan Syita yang menyangka bahwa Amrullah berkulit putih bersih dan tampan, Syita terbengong-bengong sesaat.

“ Ukhti. . . jadi bagaimana? Apakah ukhti menerima lamaran ana?”

Suara Amrullah menyadarkan Syita dari keterkejutannya. Syita kembali menundukkan kepalanya, ia bingung apa yang harus ia katakan. Semua di luar perkiraannya.

“ Ma. . maaf akhi. . . mohon berikan saya waktu 3 hari untuk memikirkannya. ”

Amrullah mengangguk tanda mengerti, kemudian ia pamit untuk pulang. Syita dan ibunya mengiyakan. Setelah Amrullah pergi, Syita berkata pada ibunya

“ Bu, kenapa ibu menerima orang seperti itu untuk melamar Syita?” tanya Syita kepada ibunya.

“ Lho, maksud kamu apa Syita? Setahu ibu kamu tak pernah memandang orang dari kulitnya, katamu jelek atau bagus itu cuma casing yang terpenting adalah isi hati dan kepribadiannya. Ibu menerima siapa saja yang bermaksud baik untuk melamarmu, lagipula ibu lihat agamanya baik, dia bisa membimbingmu. ”

“ Iya bu, Syita memang tak pernah pilih-pilih dalam berteman. Tapi untuk pasangan hidup tentu Syita harus milih dong Bu, gak bisa sembarangan. Kalau Syita gak bisa mencintainya Syita gak akan bisa tulus dan ikhlas melayani suami Syita nanti, bukankah itu justru menjadi petaka?”

“ Ya sudah, itu sih terserah kamu saja. Toh, yang akan menjalaninya adalah kamu. Keputusan sepenuhnya ada ditangan kamu. ” Kata Sang ibu yang kemudian beranjak meninggalkannya.

Syita menghela napas berat.

###

Jauh panggang dari api, itulah yang Syita rasakan. Ia memperkirakan bahwa Amrullah berparas indah, seindah untaian kalimat yang ditulisnya dalam surat, namun ternyata ia harus menelan angannya itu bulat-bulat. Ia terlalu cepat berkhayal hanya karena sepucuk surat. Dan kini, jika Amrullah itu tidak sesuai dengan kriteria pria idamannya, akankah ia tetap menerimanya? Tapi kalau Syita menerima lamarannya dan akhirnya menikah dengannya, apakah Syita bisa mencintainya? Kata orang cinta akan tumbuh seiring berlalunya waktu dan banyaknya kebersamaan yang terjadi, tapi bagaimana jika Syita tak bisa juga mencintainya? Ia tak mungkin bisa tulus dan ikhlas melayaninya, Syita takkan mungkin bisa jadi seorang istri yang baik bila di hatinya tak ada cinta.

Syita stress memikirkan itu semua, ia belum juga bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menolak lamaran Amrullah dengan halus. Dia sudah melakukan shalat istikharah dan berdoa dengan sungguh-sungguh, namun ia tak kunjung mendapatkan kemantapan hati. Dia butuh hiburan untuk menenangkan pikirannya yang kalut, Ia pun pergi ke bioskop untuk menonton film The Mirror Never Lies. Dia memang suka menonton film indonesia yang berkualitas, bukan hanya sekedar horor esek-esek yang tak seram, malah cenderung porno. Dia lebih suka menonton film yang diangkat dari novel ataupun film besutan sutradara yang memang sudah kondang membuat film berkualitas. Jika di bioskop tidak ada film yang bagus, ia lebih suka dirumah. Membuat tulisan dan artikel untuk media cetak tempatnya bekerja sebagai penulis freelance.

Waktu asar telah tiba ketika Syita selesai menonton film, ia bergegas menuju masjid Nurul Iman di samping bioskop. Tiba-tiba ia teringat dengan muadzin dan imam bersuara merdu yang telah memukaunya, ia berharap mudah-mudahan hari itu ia bisa melihat wajah sang muadzin ataupun sang imam walaupun hanya dari kejauhan saja.

Adzan telah mengalun dengan syahdu, suara merdu itu kembali menggetarkan hatinya, mengingatkan ia akan kebesaran dan keagungan Allah. Syita segera mengambil air wudhu dan bergabung dengan jama’ah wanita. Kali ini ia bisa shalat dengan khusyu, ia memohon kepada Allah agar menunjukkan cara terbaik untuk menolak lamaran Amrullah. Usai shalat, Syita tak segera beranjak. Ia masih khusyu berdzikir dan berdoa kepada Allah memohon agar diberikan jodoh yang terbaik dalam hidupnya, dan terutama ia bisa mencintainya supaya bisa menjadi istri yang tulus ikhlas dalam melayani suami. Syita berdoa dengan takzim, tak lupa ia juga berdoa untuk orangtuanya kemudian ia menutup doanya dengan membaca al fatihah. Syita menurunkan tangannya, melepas mukena yang dikenakannya dan melipatnya.

“ Para jama’ah yang dirahmati Allah, dimohon jangan meninggalkan masjid dulu. Hari ini kita berkesempatan menyaksikan peristiwa bersejarah, seorang Hamba Allah yang selama 25 tahun menganut agama Nasrani akan berhijrah masuk agama islam. ” Terdengar pengumuman melalui pengeras suara.

Serentak semua jama’ah mengucapkan alhamdulillah secara bersamaan. Syita mengucapkan hamdalah dalam hati, ia turut bersyukur atas hidayah yang didapatkan oleh orang tersebut.

“ Dia akan mengucapkan syahadat dibimbing oleh ustadz Amrullah, kepada nona Maria Angelica silahkan maju kedepan. ”

Syita terkejut mendengar nama ustadz Amrullah disebutkan, mungkinkah ustad itu adalah orang yang sama dengan orang yang melamarnya? Hijab yang membatasi tempat shalat pria dan wanita dibuka untuk memudahkan para jama’ah menyaksikan peristiwa bersejarah dalam hidup Maria Angelica. Dan akhirnya Syita bisa melihat para jama’ah laki-laki yang duduk rapi, di depan mihrab duduk beberapa orang laki-laki, dan diantara mereka ada Amrullah yang kemarin datang melamarnya. Wajahnya tampak teduh, seulas senyum penuh keramahan menghiasi wajahnya. Seorang gadis muda yang duduk di samping Syita merangsek maju kedepan dengan perlahan, dia mengenakan baju muslimah serba putih. Ternyata dialah orang yang Akan mengucapkan syahadat, dia berjalan menggunakan lutut hingga sampai dihadapan Ustadz Amrullah.

“ Ukhti sudah siap?”

Maria Angelica mengangguk perlahan. ” Hati saya sudah mantap ustadz, saya siap lahir batin. ” Katanya yakin.

Kemudian ustadz Amrullah membimbing Maria Angelica mengucapkan dua kalimat Syahadat , begitu maria selesai mengucapkan syahadat. Ucapan alhamdulillah bergema memenuhi langit-langit masjid, semuanya bersyukur mendapatkan saudara baru. Setelah itu ustadz Amrullah memberikan nama baru untuk Maria, yakni Siti Aisyah seperti nama istri Rasulullah yang gigih dalam memperjuangkan agama. Dimaksudkan agar Maria yang kini telah menjadi muallaf bisa mempertahankan agamanya dengan gigih walaupun berbagai cobaan akan merintanginya.

Maria Angelica yang kini telah berganti nama menjadi Siti Aisyah kembali ke barisan jama’ah wanita. Semua jama’ah wanita menyalaminya dan mengucapkan selamat padanya, Aisyah tak henti mengucapkan terimakasih. Wajahnya berbinar bahagia, Syita turut memeluk dan mengucapkan selamat padanya. Setelah itu, semua jama’ah di masjid Nurul Iman mendnegarkan tausiyah singkat dari ustadz Amrullah yang menerangkan tentang muallaf dan bagaimana umat islam harus berbuat baik terhadap muallaf.

###

Siang begitu terik, Syita berjalan dengan gontai pulang kerumah, ia menyetop sebuah mini bus yang menuju arah rumahnya dan menaikinya. Syita duduk di sebuah kursi yang masih kosong, disebelahnya telah ada seorang wanita muda. Syita baru menyadari kalau wanita itu adalah Siti Aisyah yang kemarin ia saksikan masuk islam, Syita menyapanya dan akhirnya mereka berdua pun terlibat obrolan seru.

“ Ukhti, kalau boleh saya tahu mengapa ukhti memilih masuk islam? Bagaimana ceritanya hingga ukhti bisa mendapatkan hidayah dari Allah?” tanya Syita dengan hati-hati.

Aisyah tersenyum, ia melempar pandang keluar jendela. “ Semuanya berkat ustdaz Amrullah. ” Ucapnya seolah bergumam pada dirinya sendiri.

Syita mengeryitkan kening mendengar nama Ustadz Amrullah disebut.

“ Sebenarnya aku sudah mengenal islam sejak kecil, ayahku beragama Nasrani sedangkan ibuku beragama islam. Ibukulah yang mengenalkan islam padaku, namun ibuku membebaskanku untuk ikut agama ayah atau agama ibu, dan aku memilih ikut agama ayah. Suatu hari aku berkenalan dengan ustadz Amrullah, tapi anehnya dia tidak mau menyalamiku malah merapatkan kedua tangannya di depan dada. Aku heran, padahal aku memiliki banyak teman muslim dan mereka tak pernah bersikap seperti itu padaku. Kemudian aku bertanya pada ibu tentang hal itu, ibuku mengatakan bahwa itu artinya ustadz Amrullah menjaga kehormatanku dengan cara tidak menyentuhku. Sejak itu aku jadi tertarik untuk mempelajari islam lebih jauh. Suatu hari aku dan keluargaku liburan ke Bali, disana aku kembali bertemu dengan Ustadz Amrullah yang secara kebetulan juga ada disana. Ketika itu ombak sangat besar, aku bermain surfing sendirian, tak mempedulikan peringatan orang-orang disekitarku. Saat aku sedang asyik bermain dengan ombak, tiba-tiba ada ombak yang sangat besar datang menggulung, aku tak bisa melawannya, akhirnya aku tenggelam. Aku pikir aku bakalan mati, tapi kemudian aku sadar dan telah berada di rumah sakit. Sambil menangis Ibuku bercerita bahwa saat itu ustadz Amrullah yang telah menolongku, ibu sangat mengkhawatirkan keadaanku. Aku berhutang budi padanya, dia telah menyelamatkan nyawaku. ”

“ Sekembalinya kami ke Jakarta, aku berkunjung ke rumahnya untuk menyampaikan rasa terima kasih. Ketika aku sampai di depan pintu rumahnya, terdengar suara lantunan ayat-ayat alqur’an yang amat merdu, aku tahu bahwa itu bacaan alqur’an karena ibuku sering membacanya dirumah jika ayahku sedang tidak ada. Hatiku bergetar hebat, aku hanya bisa diam terpaku didepan pintu rumahnya. Saat ia membuka pintu, aku langsung berkata’aku ingin masuk islam’ entah darimana datangnya kekuatan itu, kata-kata itu meluncur saja dari mulutku. Selanjutnya ustadz Amrullah menyuruhku datang ke masjid Nurul Iman tempat ia biasa menjadi muadzin dan imam disana untuk mengikrarkan syahadat agar disaksikan semua jama’ah yang hadir. ”

Syita termenung, begitu hebat kisah perjalanan Aisyah hingga ia mendapatkan hidayah melalui perantara ustadz Amrullah. Sedemikian mulia akhlak Amrullah hingga ia bisa membawa Aisyah kedalam cahaya islam.

“ Sungguh, aku ingin sekali menjadi istri ustadz Amrullah, jika aku menjadi istrinya aku yakin dia bisa membimbingku dan mengajariku tentang agama islam. Dan aku pasti akan sangat bahagia bersuamikan pria soleh dan alim sepertinya. Namun, saat niat itu aku utarakan padanya tak lama setelah aku mengucap syahadat, dia berkata bahwa dia sudah mengkhitbah seorang muslimah dan sekarang sedang menunggu jawabannya. Aku siap menjadi istri kedua, tapi ustadz kembali menolakku dengan halus, ia tak mau menyakiti hati istrinya kelak dengan berpoligami. Ia sangat menghargai wanita, betapa beruntung gadis yang dilamarnya itu. Akhlak dan hatinya sungguh melebihi keindahan parasnya, siapapun pasti akan menemukan surga dunia bila dapat bersanding dengannya. ”

Syita kembali termenung mendengar penuturan Aisyah. Benarkah ia wanita yang sangat beruntung di khitbah oleh ustadz Amrullah?.

###

Airmata Syita menetes membasahi mukenanya, di sepertiga malam yang hening itu Syita mengadu kepada Tuhannya.

“ Ya Allah, maafkan aku. Ampuni hambaMu yang penuh dosa ini, aku hanya menilai Amrullah dari luarnya saja, padahal dia adalah sebaik-baiknya hambaMu. Hamba menyadari bahwa hamba telah terpikat dengan keindahan suaranya saat melantunkan adzan dan ayat suci, tapi aku telah bersalah padanya karena memandangnya sebelah mata hanya karena wajahnya tak sesuai dengan wajah pria idaman hamba, ampuni aku ya Allah, ampuni aku. . . . ”

Syita terus terpekur dalam munajatnya hingga pagi menjelang, hari ini Amrullah akan datang kerumahnya untuk mendengar jawabannya. Syita resah, rasanya ia tak ingin bertemu dengan Ustadz Amrullah. Namun apa daya, akhirnya Amrullah pun bertandang kerumahnya. Dengan agak canggung Syita menemuinya.

“ Ukhti, saya datang kesini untuk mendengar jawaban yang telah ukhti janjikan tiga hari yang lalu. ” Kata Amrullah dengan nada halus dan sopan.

“ Maaf ustadz, saya merasa saya tidak pantas menjadi istri ustadz Amrullah. ” Kata Syita pelan

Amrullah dan ibu Syita yang mendengarnya terkejut dan heran dengan kata-katanya.

“ Apa maksudmu ukhti. ?” tanya Amrullah

Semua yang hadir disitu memandang Syita, menanti jawaban yang akan keluar dari mulutnya. Syita menceritakan tentang semua perasaannya, bagaimana ia terpikat dengan suara indah di mesjid Nurul Iman, hatinya yang tersentuh membaca surat dari Amrullah, dan kecewa yang ia rasakan saat pertama bertemu dengan Amrullah karena tak sesuai dengan perkiraannya. Syita juga menceritakan tentang pertemuannya dengan Aisyah dan semua yang mereka bicarakan.

“ Saya merasa benar-benar tak pantas menjadi pendamping hamba Allah yang berakhlak mulia seperti ustadz, karena akhlak saya masih sering tercela terutama kepada ustadz selama ini. ”

“ Kemuliaan akhlak itu bisa dibina dan dipelajari, saya pun masih banyak kekurangan. Saya sadar masih banyakketidaksempurnaan yang saya milki, tapi apakah ukhti bersedia menerima saya apa adanya dan saling menyempurnakan akhlak untuk mencapai kebahagiaan abadi dibawah naungan ridho Allah?”

Syita tertunduk diam mendengar kata-kata Amrullah, matanya berkaca-kaca.

“ Aisyah lebih membutuhkan ustadz daripada saya. ” Ucapnya, ia tak tahu bagaimana kalimat itu meluncur dari mulutnya padahal hatinya terasa pedih saat ia mengucapkannya.

“ Dan saya membutuhkan ukhti Syita untuk menjadi bidadari dalam hidup saya, ukhti Syita yang saya pilih dengan nama Allah untuk menyempurnakan separuh agama saya. ”

Syita terkesima mendengarnya, ia menatap Amrullah. Airmata berderai membasahi wajahnya.

“ Ukhti, izinkan saya menjadi halal untuk menghapus airmata ukhti. Izinkan saya menjadi tempat berbagi ukhti Syita dalam keadaan apapun, dan izinkan saya menjaga ukhti Syita dengan sepenuh jiwa raga saya. Saya menginginkan ukhti Syita menjadi ibu bagi anak-anak saya dan menemani saya dalam mengembangkan dakwah islam, apa ukhti bersedia?”

Syita terisak penuh haru, ia mengangguk perlahan.

-selesai- (Fitri Yani)

 

Sumber: http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2011/11/12/hidayah-cinta/

  1. Belum ada komentar.
  1. November 30, 2011 pukul 7:44 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: